Penghayatan


Sekitar satu bulan yang lalu disela-sela kesibukan, saya  berlibur di kampung halaman dan Alhamdulillah bisa menemui beberapa sahabat dan kenalan saya. Kala itu saya silaturahmi di rumah sahabat yang sudah saya kenal sekitar tiga tahun yang lalu dari penggarapan sebuah film pendek di Kota Demak. Sahabat saya ini memang memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat kritis dan dia juga diberikan anugerah oleh Tuhan untuk lebih jauh mencintai kebudayaan dan kearifan local, hal ini wajar karena dia dekat dengan beberapa seniman di Yogyakarta dan dia melibatkan diri didalamnya. Saya sangat sering berdiskusi dengan dia walaupun dia usianya terpaut jauh, namun hal ini tak menghalangi saya dalam berteman dengannya, untuk berkomunikasi dan belajar secara langsung mengenai kebudayaan dan kearifan local yang saat ini sudah mulai tergerus oleh budaya-budaya yang bukan jati diri sesungguhnya.

Pada siang hari itu, dia mengatakan seperti ini kepada saya, “Roso iku penting nalikane awake dewe makarya apa wae wujude, sebab roso iku kaya ruh” yang terjemahannya dari ungkapannya dalam bahasa Jawa tersebut adalah “Penghayatan itu penting ketika kita berkarya apapun wujudnya, sebab penghayatan itu seperti roh”. Penghayatan merupakan suatu hal yang tidak boleh ditinggalkan ketika melakukan suatu aktivitas apapun bentuknya, jika menginginkan sebuah kebermaknaan dengan apa yang telah dilakukan. Ketika seseorang melakukan suatu kegiatan tanpa adanya penghayatan maka bisa dikatakan kegiatan tersebut menjadi mubazir atau didalam bahasa manajemen pemasarannya adalah produk yang tidak memiliki nilai tambah dan menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja. Misal, anda bekerja dikantor tanpa adanya penghayatan dan hanya berpikir pada “Nanti dapat gaji”, maka keseharian anda didalam kantor hanya sebatas kerja untuk memenuhi tuntutan tugas saja dan tidak ada yang lebih. Kepuasan anda hanya terletak pada saat menerima gaji saja. Beda halnya, jika anda melakukan pekerjaan dengan penuh penghayatan, misal anda menganggap bahwasanya bekerja itu sama dengan beribadah, bekerja sebagai wujud syukur atas rizki dari Tuhan dan memaknai setiap gerak kehidupan untuk memberikan manfaat kepada siapapun yang mengenalnya. Maka dengan hal-hal penghayatan yang seperti inilah anda akan merasakan bahwa pekerjaan anda itu sangat indah dan penuh makna.

Disisi lain, ketika melakukan suatu hal apapun bentuknya jika tanpa penghayatan, maka kita tidak akan merasakan dan menemukan dimana letak kepuasan dan rasa syukur karena kita tidak mengetahui makna yang kita kerjakan, kita tidak menghayati, kita terlena hanya dengan melihat dari segi riil saja, namun hal-hal kebahagiaan batin terabaikan. Disinilah pentingnya kita menghayati setiap aktivitas kita, setiap gerak tubuh kita, setiap hari kita, setiap jam kita, setiap menit kita, setiap detik kita dan setiap hembusan nafas kehidupan kita untuk lebih jauh menghayati kehidupan. (Aa)

Ali Arifin
Jagakarsa, Jakarta Selatan, 06 Desember 2013

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel