Terdiam


Akhir-akhir ini Pincuk mencapai pada sebuah titik, dimana titik itu yang disebut dengan titik kejenuhan. Hari-hari yang ia lewati hanya dengan bengong begitu saja tanpa menghasilkan sebuah karya sedikit pun. Mungkin bisa dikatakan merugi, karena dia telah melewatkan hampir seminggu waktunya hanya untuk melamun. Entah karena alasan apa muka Pincuk hanya seperti gedeg amoh yang tidak enak dipandang mata dengan bibir kering tanpa sepatah kata terlontar saat bertemu dengan Bolokurowo. Melihat kondisi yang seperti ini tentunya orang-orang yang biasa ada disekelilingnya merasa bingung dan janggal, lantaran biasanya dia adalah orang yang paling ramai dan penuh keriangan dalam menjalani hidup ini.

“Kamu itu sedang ada masalah apa?” tanya Bolokurowo dari Makasar, namun Pincuk tetap diam dan hanya memandang sahabatnya itu dengan tatapan kosong. “Ada apa? Ceritalah kepadaku, siapa tahu aku punya solusi buat kamu.” Lanjutnya. Pincuk tidak menjawab, justru dia malah pergi meninggalkan sahabatnya itu.

Tiba-tiba dia kembali menemui Bolokurowo dari Makasar, dan berkata “Kenapa kondisi kehidupan saat ini kok ya semakin membingungkan dan mengerikan.”
“Emangnya gimana Ncuk?”

“Masak, ada anak kecil memperkosa anak kecil, ayah memperkosa anak kandungnya sendiri, terus anak kecil usia 8 tahun membunuh anak kecil usia 7 tahun. Semakin bertambah tahun bukan semakin tambah tentrem tetapi malah semakin tidak karuan.”

“Emmm... ini to penyebabnya? Keluargamu ada yang jadi korban?”
“Ooo... lha dapurmu..!!!” Misuh-misuh tidak jelas mulutnya Pincuk. “Nggak.. cuman aku risau aja melihat keadaan yang seperti ini.”

“Memang, akhir-akhir ini kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak masuk akal sudah terjadi begitu banyak. Bahkan ada Bupati sebagai seorang figur panutan menikah dengan gadis belia dan beberapa hari kemudian diceraikan dengan alasan keperawanan. Aneh..”

“Ini sebenarnya ada sebuah tali iblis yang nyangkut-nyangkut kemana-mana, mulai dari tali yang nyantol di ekonomi, sosial dan politik. Semuanya sudah nyangkut, jadi kalau ini tidak diminimalisir berbahaya.” Kata Pincuk

“Benar Ncuk, tapi ini bukan sebuah persoalan yang mudah untuk ditumpaskan. Entah solusi apa yang harus dilakukan. Kyai aja sekarang bisa jadi sebagai status yang rawan disalah gunakan karena sekarang sudah bergeser menjadi profesi untuk menghasilkan uang. Kyai yang sering nongol di televisi dijadikan takaran kemampuan dan eksistensi oleh masyarakat. Padahal banyak sekali Kyai yang memang benar-benar untuk berjuang dijalan agama dan tidak menerima honor saat diundang menjadi pengisi ceramah. Namun apa yang kita lihat sekarang? Aneh kan? Bahkan bisa jadi nanti Kyai memiliki manajer untuk mengurus semua agendanya beserta teken kontraknya. Aku salut kepada beliau-beliau yang berani tayang di televisi dan berbagai media dakwah tanpa pasang tarif, kalaupun di kasih amplop juga dipergunakan untuk jalan dakwah, bukan memperkaya diri.”

“Korupsi terjadi diberbagai lini kehidupan, bahkan korupsi menjadi suatu hal yang biasa. Beras miskin (raskin) yang seharusnya dari Bulog 90 karung, sampai ke warga hanya 60 karung. Ternyata kepala desa sendiri yang garongin jatah buat rakyatnya.” Kata Pincuk

Situasi kehidupan sudah mulai berbalik-balik, ketidak normalan mulai dianggap menjadi sebuah kenormalan. Kewajaran dianggap sebagai suatu hal yang aneh dan ditertawakan dimana-mana dan mulut tidak sejalan dengan pelaksanaannya. Sempat suatu ketika Pincuk mengenal salah seorang yang mengikuti sebuah komunitas dengan bendera menyelamatkan bumi. Dia selalu menggembar-gemborkan “ayo selamatkan bumi” dan mengedukasi orang-orang disekelilingnya untuk menjaga lingkungan, energy, dan berbagai kekayaan alam untuk anak cucu dimasa yang akan datang.  Namun apa yang dia gembor-gemborkan tidak sejalan dengan tindakannya. Dia acuh dengan lingkungan, dan bahkan yang sering terjadi adalah menghambur-hamburkan energy. Salah satunya jarang mematikan computer disebuah ruangan praktik. Sampai-sampai salah seorang yang tidak memiliki dan tidak menjadi anggota komunitas apapun malah hatinya terketuk untuk mematikan semua computer yang tidak dimatikan oleh penggunanya ketika kegiatan telah berakhir.

Sumber daya alam dikeruk setiap hari oleh tangan-tangan biadab tanpa memikirkan hari esok untuk generasi penerus. Mereka rakus memakan semua yang dia anggap dapat mengenyangkan dan memuaskan. Bahkan Agama pun terkadang menjadi lahan dan nama untuk mengeruk keuntungan materil yang sebesar-besarnya. Coba kita bayangkan, uang untuk Al-Qur’an aja di korupsi, apa lagi yang lainnya yang nyeret-nyeret sapi. Astagfirullah.

“Ncuk, Apakah ini sebuah pertanda dimana zaman saat ini merupakan sebuah zaman akhir? Ataukah ini menuju kepada sebuah titik pembelajaran untuk pendewasaan kehidupan?” Tanya Bolokurowo.
“Hanya Allah yang tahu,..” Sambil Pincuk menghela nafas. “Tidak harus kita bergabung dengan komunitas. Tidak harus kita berteriak-teriak mengajak orang memperbaiki semua ini. Tidak harus kita berbendera partai. Tidak harus kita berjenggot. Tidak harus pakaian kita rapi. Tidak harus kita berdasi. Dan jangan menunggu kita sukses dan berada pada titik kejayaan untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. yang terpenting kita selalu berjuang untuk kebaikan, bukan yang lainnya. Kita mulai detik ini. Kita mulai langkah ini. Allah bersama kita. Jangan teriak dan mengajak orang lain sebelum diri kita sendiri sudah siap melakukan perubahan kearah yang lebih baik.”

Hidup merupakan sebuah pilihan, apakah kita ingin menjadi orang yang baik atau tidak. Kita bebas menentukan warna dalam sebuah pemilihan. Kita semua sudah dewasa, tetapi jangan berlagak belum dewasa dan seolah-olah seperti anak kecil yang baru tamat SD. Percuma sarjana, percuma sampai S2 dan S3 kalau masih berlagak seperti anak kecil. Mari kita berbuat baik, rangkul bersama sahabat-sahabat kita yang belum mengerti, dan kita saling memperbaiki diri dan mengingatkan satu sama lain. (Aa)




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel