Belajar dari Serat Wulang Reh karya Paku Buwana IV


Ana pocapanipun, adi guna adi gang adi gung, kang adigang pantes kidang adi gung pan esthi, adi gun aula iku, telu pisan sampyoh. Si kidang umbagipun, angendelaken kebatlumpatipun, pan si gajah ngandelaken denga inggil, ula ngandelakun iku, manine kalamun nyakot. Iku upamanipun, aja-ngandelaken sira iku, suteng Nata iya sapa ingkang wani, iku ambeke wong di gung, ing wasana dadi asor. Adi guna puniku, ngandelaken kapinteranipun, samubarang kabisan dipun dheweki, sapa pinter kaya ingsun togging prana nora enjoh. Ambek adi gang iku, angungasaken kasuranipun, para tantang cendhala anyenyampahi, tenemenan nora enjoh, satemah dadi geguyon. Ing wong urip puniku, aja nganggo ambek kang tetelu, anganggowa rereh ririh ngati-ati, den kawangwang barang laku, den waskitha solahing wong. Dene tetelu iku, si kidang ing patinipun pan si gajah lena ing patinireki, si ula ing patinipun, ngandelaken upase mados. Tetelu nora patut, yen tiniruwa pan dadi luput, titikane wong anom kurang wewadi, bungah akeh wong kang ngunggung wekasane kajelomprong.

Artinya : Ada ucapan adi guna adi gang adi gung, yang pantas adi gang ialah kijang, adi gung ialah gajah, adi guna ialah ular, ketiganya bersama-sama. Kijang dengan kecongkakan, mengandalkan kecepatan loncatannya, gajah mengandalkan besar dan tingginya, ular mengandalkan bisanya ketika menggigit. Itu perumpamaan, janganlah engkau mengandalkan sebagai anak raja siapa berani, itu wataknya orang di gung yang akhirnya menjadi rendah. Adi guna itu, mengandalkan kecakapannya, segala macam pengetahuan ia miliki sendiri, siapa yang pandai seperti saya sampai akhirnya pikirannya ternyata tidak sampai. Ambek adi gang itu, menyombongkan keberaniannya, senang menantang kerja dan mencela, setelah dilayani ternyata tidak mampu, akhirnya menjadi tertawaan.

Berdasarkan kutipan Serat diatas, maka kita dapat belajar dan mengambil hikmahnya bahwa seorang pribadi yang mengandalkan apa yang dimilikinya hendaknya tidak sombong dan berbangga diri, karena pada dasarnya masih ada yang lebih baik dari kita, lebih hebat dari kita, dan lebih dalam segala macamnya dari kita. Terlalu kerdil jika kita menyombongkan diri. Apa-apa yang kita miliki saat ini adalah titipan. Didalam kehidupan jangan mengandalkan anak presiden, anak menteri, anggota polisi, dll untuk melakukan hal-hal tertentu, missal masuk pendidikan, memenangkan tender, bebas dari hokum, bertindak semena-mena. Ada Tuhan yang dapat sewaktu-waktu mengambil semuanya dari kita. Semoga kita semua dapat berperilaku sabar, halus dan selalu berhati-hati serta jujur. Terima kasih.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel