Terapi Air Untuk Desaku

Kali ini, Allah menganugerahkan rezeki untuk desa saya dengan debit air sungai yang mengalir cukup besar mengelilingi desa, dan hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir ini. Anak-anak kecil berlarian dengan penuh canda tawa menyapu air dengan tangannya yang lucu. Para aparatur desa hampir setiap hari mengumpulkan warga dan bahkan satu hari bisa sampai tiga kali, untuk memperbaiki tanggul sungai yang mulai retak dan hampir meluap. Aktivitas ekonomi lumpuh dan jaringan listrik terpaksa dipadamkan. Terdengar kabar, ternyata kondisi seperti ini tidak hanya dialami desa saya, melainkan desa lainnya dan bahkan kabupaten, kota atau provinsi lainnya di negeri Indonesia ini. Bahkan ada juga yang mengabarkan terjadi tanah longsor dibeberapa daerah, gunung erupsi, banjir bandang dan gempa bumi. Inilah bencana yang harus kita sikapi dan hadapi. Ini sebuah karunia yang tak ternilai harganya dengan nominal uang atau apapun wujudnya.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu Dosen yang saya kenal mengatakan bahwa Indonesia sedang diterapi baik secara lahir maupun batin melalui berbagai gejolak yang dialami, dengan harapan terapi ini akan menyembuhkan penyakit-penyakit yang menjangkit Indonesia. Dalam kata lain, orang-orang yang tinggal di Indonesia hendaknya mulai meraba-raba, mulai mengevaluasi diri, mulai memperbaiki dirinya masing-masing, bukan menyalahkan satu sama lain dengan dalih tertentu yang justru tidak akan menyelesaikan masalah dan memperbaiki kondisi yang ada. Allah telah memperingatkan kepada kita dengan berbagai tanda-tanda alam seperti ini.

Mari kita mulai membenahi diri masing-masing, dan memberikan kontribusi terbaik kepada sesama, terutama yang sedang membutuhkan. Saya sangat optimis dan yakin, bahwa bencana yang melanda Indonesia ini dipersiapkan Allah untuk merubah Indonesia dan membangun kembali bangsa yang kaya raya ini. Esok akan ada cahaya yang terang untuk Indonesia. Semoga teman-teman yang sedang ditimpa musibah diberikan keteguhan hati untuk melewati setiap proses kehidupan ini. Mari kita bangkit! Mari kita mulai dari diri kita masing-masing! dan ingat, jangan pernah merasa benar dan paling hebat sendiri! Kita harus sadar!

Jakarta, 26 Januari 2014
Ali Arifin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel