Kasih Sayangku Untukmu, Kembali Padaku

Kehidupan terus berjalan dan usia kita pun tidak terasa sudah mulai berkurang. Detik demi detik kehidupan ini telah kita lalui dengan berbagai hal, mulai dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan dan mengiris hati, namun itulah kehidupan yang harus tetap dijalani dengan penuh semangat. Beberapa insan dinegeri ini mulai memikirkan akhlak dan budaya masyarakatnya yang semakin lama dirasa merosot. Dan rasa-rasanya, tidak sedikit orang tua yang akhir-akhir ini secara terang-terangan entah sadar atau tidak sadar mengajarkan hal negatif yang seyogyanya tidak diajarkan kepada anaknya, dan disisi lain tayangan-tayangan televisi yang jauh akan nilai-nilai kearifan budaya, mengikis moral generasi penerus.

Salah satu sahabat saya yang tinggal di Jakarta pernah bercerita kepada saya tentang kontrakan barunya, bahwa dia memiliki tetangga kontrakan yang sangat ramai dengan teriakan-teriakan dan perkataan yang tidak jelas. Mereka adalah satu keluarga kecil yang memiliki kebiasaan yang kurang baik yaitu mudah mengolok-olok, misuh, dan cenderung tempramental. Suatu ketika, teman saya mendengar kata-kata dari anak yang kira-kira berusia sekitar 11 tahun berani membangkang kepada ibunya sambil mengatakan “*nj*ng lo Mah….!!”, sungguh kata yang kurang pas dikeluarkan dari goa mulut. Dan tahukah Anda apa bentuk sahutan dari Ibunya? Dengan nada yang sedikit tinggi dia berkata “Anak *nj*ng…..!!!”. Dari sini sudah dapat kita lihat, bahwa apa yang dilakukan anak itu sebenarnya adalah hasil dari didikan kedua orang tuanya yang sering mengeluarkan kata-kata kotor didepan anaknya, sehingga anak memiliki kecenderungan meniru terhadap apa yang dia lihat dan dengar serta rasakan. Dalam hal ini, saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai pendidikan anak, melainkan hanya sebagai contoh dan pengantar.

Didalam konteks ilmu yang diimpor dari negeri barat ada yang disebut dengan LOA. LOA atau yang memiliki kepanjangan Law of Attraction, atau kalau di terjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Hukum Tarik-Menarik. Sedangkan didalam konteks beragama, LOA sama halnya dengan apa yang kita tanam pada hari ini, maka akan kita unduh atau nikmati dihari esok (perbuatan – pahala atau hukuman). Dan apa yang kita alami dan nikmati saat ini merupakan akumulasi dari perbuatan dan tindakan-tindakan kita diwaktu sebelumnya, baik yang bersifat positif maupun negative. Semuanya memiliki sifat tarik menarik antara suatu hal dengan hal yang lainnya (baca ; sebab-akibat). Ketika ada seorang melakukan pencurian, maka secara otomatis hukum tarik menarik terjadi, dimana dia pasti akan dibayangi rasa cemas, ketakutan dan pastinya dikejar-kejar oleh pihak yang berwajib. Seperti kasus yang terjadi pada anak yang berani mengatakan kata-kata kotor kepada ibunya, itu juga wujud dari Law of Attraction.

Setiap pribadi pastinya memiliki keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang terbaik, berkah, damai, aman, sejahtera, bahagia baik di dunia mapun di akhirat. Untuk menarik hal-hal terbaik, maka kita harus melakukan hal-hal yang terbaik juga. Seperti yang pernah disinggung oleh Dik Doank dalam acara Talk Show pada salah satu televisi local, dia mengatakan “Kenapa dalam Basmallah itu, Arrahman dulu kemudian baru Arrahim? Karena kalau kita mengasihi yang lain, maka secara otomatis kita akan disayangi”. Ketika kita tidak mengasihi, maka tidak akan ada yang namanya sayang dan ketika kita sudah mengasihi dan menyayangi, maka kita akan mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Dengan kita mengasihi, maka timbul yang namanya “sayang”. Dan kemudian muncul “kasih sayang”, bukan “sayang kasih”. Dalam hal ini, kapasitas mengasihi dan menyayangi sangatlah luas, dan tidak hanya terbatas kepada sesama manusia saja, melainkan apa-apa yang ada disekitar kita, mulai dari lingkungan, hewan dan masih banyak lagi makhluk lainnya. Dari kita mulai sadar, apa-apa yang harus kita pikirkan dan niatkan terlebih dahulu? Apa yang harus kita ucapkan ? Apa yang harus kita lakukan dan perbuat? Dan nantinya setelah kita berbuat, kita tinggal bersiap-siap menerima pelukan dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT. Inilah LOA kasih sayang. 

Ali Arifin
Jakarta, 05 Maret 2014

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel