Bekerja Vs Makarya

Agar dapur tetap mengepul dan kampung tengah terisi, maka setiap individu hendaknya menjalankan suatu aktivitas tertentu. Aktivitas itu oleh masyarakat saat ini sering disebut dengan bekerja. Saya pun sering ditanya oleh beberapa sahabat maupun tetangga mengenai status pekerjaan. Ya, status profesi. Saya terkadang bingung ingin menjawab apa, karena statusnya belum jelas. Kok belum jelas? ya memang belum teridentifikasi dengan baik, karena saya masih bingung dengan pertanyaannya. Kebanyakan mereka yang bertanya kepada saya selalu menggunakan kata seperti ini, "Mas, sudah bekerja dimana?".

Dalam penafsiran awam saya istilah bekerja itu identik dengan penjajahan dan gerakan pembodohan pribumi. Kita hanya diperas saja, tanpa memperhitungkan hal-hal spiritualitas. Saya sangat tidak sepakat dengan istilah bekerja. Kalau di Jawa itu ada yang namanya makarya atau dalam bahasa Indonesia-nya adalah berkarya. Jadi bagi orang Jawa yang paham betul Jawa, ketika menanyakan profesi itu menggunakan kata makarya atau berkarya, dimana didalamnya terkandung nilai-nilai spiritual dan tidak hanya lahiriah semata. Namun istilah berkarya atau makarya tidak begitu familiar ditelinga kita dan justru eksklusif hanya untuk seniman saja. Padahal disini jelas-jelas kita hidup menghasilkan sebuah karya, melalui jalurnya masing-masing. Makna makarya atau berkarya jauh lebih agung untuk menghargai dan menghormati manusia jika dibandingkan dengan kata bekerja.

Mungkin ini hanya penafsiran dangkal saya. Jadi jangan diperdebatkan atau dimaknai sebagai sebuah kebenaran atau kesalahan. Ini hanyalah rumput liar dipagi hari yang embunnya menetes dan menggelitik tangan saya untuk menuliskannya. 


Lensa Senja
Loireng, Demak, 23 September 2014
Ali Arifin


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel