Wanita Bukan Wanita

Semalam aku bermimpi berjalan bersama wanita
Dengan paras muka yang aduh sungguh begitu menggetarkan jiwa
Tapi aku gak eling, aku lali, aku cuman tahu engkau adalah wanita

Hai…
Siapa engkau yang datang tadi malam
Aku lupa menanyakan siapa namamu dan alamat rumahmu
Hampir seluruh lelaki dijaman ini begitu terpesona melihatmu
Senyumanmu bak embun pagi yang terlepas dari ujung daun, katanya
Begitu sejuk dan segar menyapa tanah yang kekeringan, katanya
Lantunanmu katanya memperdengarkan gemericik air ketentraman

Hai.. engkau yang diidam-idamkan para lelaki
Tidak sedikit yang mengejarmu, tanpa permisi kepada bapak ibumu
Dan karena nafsumu, engkau tergoda melayaninya
Sehingga dibiarkanlah engkau bersama
Duduk berdua tanpa batasan benar dan salah
Bahkan keduanya lupa siapa yang melahirkannya
Menghidupinya, memberikan nafas, dan memenggal nadinya

Hai… engkau yang cantik jelita, kata para lelaki
Sebenarnya siapa nama ayahmu, dimana pemilikmu
Kenapa engkau begitu mau dipersunting, kawin lari
Apa karena lelaki itu sungguh tampan bagimu
Atau ayahmu memang sengaja membebaskanmu, dengan syarat
Pada masanya nanti engkau diambil dan meminta tebusan besar
Serta memenjarakannya disekejam-kejamnya penjara

Engkau bercumbu disetiap malam, dengan gemerlap kegelapan
Engkau dihitung-hitung dan dijumlah dikasur empuk nan lembut
Disimpan rapi-rapi didalam kamar brangkas-brangkas berat
Dengan kunci berlipat-lipat dan pasword tujuh tingkat
Sesekali engkau diajak jalan-jalan menjadi gedung mewah
Menjadi mobil super cepat dan canggih berbalapan dengan becak
Mempertontonkan keangkuhan, kekuatan, dan merasa paling hebat
Namun engkau lupa ada orang-orang disudut-sudut gang kecil
Gang-gang kotor beratapkan barang bekas dan seng berkarat
Anak-anak kurus kekurangan asupan gizi mengais sisa makanan ditepi jalan
Saudara-saudaraku di dusun-dusun yang dilanda kekeringan
Kemiskinan, kebodohan, ketidak adilan, penindasan, pengkadalan

Wahai wanita cantik…. yang bukan wanita
Engkau tidak bersalah, tetapi kami para lelaki yang salah
Kami keliru memandangmu dan tak sepenuhnya tahu siapa kamu
Aku hanya ingin mengenal orang tuamu, bukan kamu
Aku tidak mau tiba-tiba datang dan mengajakmu pergi
Karena itu bukanlah kesejatian, harus andhap ashor
Bukan mencuri atau bahkan merampok terang-terangan
Aku yakin, ketika aku dekat dengan orang tuamu
Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan izin dan restu
Tanpa harus meminta-minta atau bahkan mengemis
Jadilah,… maka akan jadi…

Halalan Toyyiban…. Syah… 

Oleh : Ali Arifin
Denting Puisi
Loireng, Demak, 24 September 2014

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel