Desa Bukan Desa

Bismillah... Audzubullahi minasyaiton nirojim...

Zaman desa apa ini
Zaman ini apa desa
Apa ini zaman desa
Desa zaman ini apa

Desaku... Oh desa yang mulai meninggalkan harumnya tanah
Engkau bangga mengejar yang disebut kekinian dan kemajuan
Pelataran tanah engkau rubah menjadi wujud cadas keras
Sehingga rumput pun tak engkau biarkan tumbuh dihalaman
Cacing pun tak engkau izinkan menatap matahari seumur hidupnya
Bahkan tetanggamu engkau larang matanya melihat serambimu
Pagar rumahmu menjulang begitu tinggi dengan jeruji dan kawat
Tak lupa engkau pasang mata~mata dengan lensa kamera satu juta
Hanya untuk menjaga mobil dan kekayaan yang telah engkau tumpuk
Hei.... apakah ini kemajuan...
Apakah ini yang disebut kekinian..

Desa... Oh desa.... kenapa engkau dicampakkan sebegitunya
Sungguh sangat sedikit yang setia dan taat menjaga nilai kehidupanmu
Engkau begitu dihina oleh kambing~kambing hedon
Kata mereka, engkau katrok, ketinggalan zaman
Kurang update, norak, bahkan mereka terang-terangan menghina kita
Itu tidak masalah, justru dengan dihina berarti engkau punya pembeda
Sehingga kota iri dengan kehidupanmu yang damai
Yang luhur, arif dan penuh tata krama dalam kehidupan

Aku yakin suatu saat akan ada masa
Dimana desa akan membuka tabir keilmuan
Desa akan menjawab negeri seolah-olah berdiri
Desa akan menyelamatkan apa apa yang pantas untuk diselamatkan
Desa akan merubah kehidupan
Semua akan kembali kepada desa..
Semua akan kembali kepada rumput
Semua akan kembali kepada tanah


Denting puisi, Desa Buka Desa
Loireng, Demak, 18 Oktober 2014
Ali Arifin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel