Ternoda Kesuciannya (Tulisan)


Bismillah, saya mengawali tulisan ini dengan menghaturkan kalimat kebaikan, kalimat suci, kalimat yang tinggi maqom-nya (baca : bismillah), dengan tujuan agar tetap terjaga dari sikap ateis dalam menyampaikan sebuah pemikiran. Karena kata teman-teman yang ada di pondok pesantren, awalan atau niat itu akan mempengaruhi berlangsungnya proses dan bahkan menentukan hasil. Jika baik niatnya dan tetap terjaga sampai akhir, maka bukan tidak mungkin hasilnya juga akan baik dan begitu pula sebaliknya. Maka dari itu saya mencoba tulisan-tulisan saya menuju kepada niat dan kemungkinan-kemungkinan yang baik, walaupun pada kenyataannya mungkin banyak kekurangan dan kesalahan dalam berbagai hal sehingga tulisan saya tidak sempurna. Intinya saya ingin memulai dengan niat yang semoga saja lurus dan mampu terjaga sampai akhir.

Saya takut jika suatu saat tulisan-tulisan yang kita buat berbicara kepada kita dan menuntut bahwa kita telah menodai kesucian dan kejujuran sebuah tulisan. Bayangkan saja jika tulisan itu berkata ;

“Untuk apa engkau menulis? Kenapa engkau nodai kesucianku hanya untuk kepentingan diri dan golonganmu saja. Hingga kau tega menggunakan diriku dan mengatur-aturku untuk menghilangkan fakta, memfaktakan apa yang bukan fakta, menampakkan apa yang tak tampak, melenyapkan apa yang jelas tampak, menggiring orang agar menjadi miring. Aku sungguh sangat sedih melihat kalian yang membuat masyarakat bingung dan akhirnya linglung. Aku bersumpah akan menuntut kalian dipengadilan yang sebenar-benarnya pengadilan. Ingat itu!”


Sungguh sangat mengerikan jika tulisan-tulisan itu menggugat kita pada pengadilan hakikat, kecil harapan kita untuk selamat dari jerat gugatan yang diadukan. Kita hanya tertunduk lesu dikursi pengadilan dengan tatapan mata yang kosong menghadap lantai ruangan. Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita benar dan yang lain tidak benar, karena semua anggota badan kita telah dikunci mati dan hanya tulisan-tulisan itu yang berbicara. Kita tidak kuasa untu mengelak dan membuat pembelaan. Mungkin besok kita akan dikumpulkan dan diberi nomor urut untuk duduk dikursi sidang di pengadilan hakikat itu, termasuk saya. Lihat saja tulisan-tulisan kita, semuanya penuh dengan nafsu dan kepentingan. Mulai dari nafsu cap kadal, sampai nafsu cap brandal mbedal-mbedal. Tentunya tak perlu saya ungkapkan semuanya, tapi kita tahu sendiri dan bertanya kepada diri kita masing-masing.

Semoga kita dituntun pada jalan yang penuh tuntunan dari Yang Maha Menuntun dan Menyelamatkan yaitu Allah SWT. Aamiin YRA.

Ali Arifin – Setu Pon, 28 Mulud 1949

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel