Disuruh Belajar Sama Allah

Entah berapa lama Pincuk tidak muncul kembali semenjak pemilihan presiden tahun lalu. Seolah-olah dia lenyap, lemas, lunglai melihat realita yang ada dihadapannya. Mungkin dia kecewa terhadap sikap Pak RT, atau mungkin dia mutung sama Jan Penceng, Paijo dan saudara-saudara lainnya yang telah meninggalkan dirinya usai terjadinya resepsi pengantin raja tahun lalu.

Paijo dan Dul Penyet ternyata telah pulang kampung dan hidup dengan profesi sebagai kuli ketik dan fotokopi di kantor pemerintahan daerah. Sedangkan Mad Ndog bekerja di pabrik dengan rutinitas membosankan bak mesin yang gerakannya itu-itu saja, begitu juga dengan Mar Telo yang waktu hidupnya habis ditempat kerja, namun Mar Telo bisa sedikit lebih berbangga karena bisa berpakaian lebih necis dibanding yang lainnya. Disisi lain, Jan Penceng ternyata sedang mendalami ilmu-ilmu manajemen barat dan pergaulannya pun ditempat-tempat yang berkelas seperti hotel-hotel dengan tawaran gemerlap kemewahan beserta semangat perubahan.

Dari semua mbambung lulusan kontrakan Gang Mamalah hanya Pincuk yang dipilihkan oleh Allah untuk melalui jalur yang lebih radikal dan menyayat hati. Saat ini Pincuk menjadi seorang mbambung fungsional pada sebuah instansi, namun dia tidak pernah mematuhi syarat formal dan tidak pernah mengakui kalau dirinya sebagai seorang peg****. Dia hanya berjuang untuk menentramkan nuraninya dan sebisa mungkin untuk berbagi. Dia melakukan pekerjaan ini karena scenario Allah yang memperjalankannya untuk wajib belajar disana. Dan dia harus nurut kepada Allah. Mungkin ini jalan pendewasaan dan kedalaman bagi dirinya.

Disana ditempatnya itu, Pincuk belajar mulai dari negeri amplop dan negeri hahahihi pada puisinya Gus Mus, pisuh-memisuhnya Mbah Tedjo, kepala batu dan manusia batunya Pakde Mustofa W. Hasyim. Dia sungguh menyaksikan dimana orang tua yang tidak lagi tua, anak muda yang hilang kemudaannya, tumpul dan karatan. Dia hanya berdoa, semoga dia terjaga dari manusia batu dan kebijakan batu.

“Nek sliramu mung muni aku picek iku wis tak maafke, senajan sliramu ora tahu njaluk ngapura marang sliraku. Ananging aku ora bakal nglalikake. Muga-muga sliramu lek ndang dimarikake piceke. Watuuuu...... watuuuu.... .” Nglindure Pincuk.

“Hmmmmm............ Masa depan kosong” lanjut Pincuk yang masih mengigau.

Pincuk memang sudah tidak begitu menyukai iklim tempat dimana dia sekarang berada, namun dia tetap mencoba bertahan karena dia yakin bahwa Allah memperjalankannya pada tempat yang seperti ini pasti memiliki maksud tertentu. Dia yakin setelah selesai semua pekerjaan dalam dua tahun, dia akan menemukan hidup yang jauh lebih baik. Disuatu sisi ternyata diam-diam saudara-saudaranya  juga risau akan kondisi tempat dimana mereka yang katanya makarya itu. Mulai dari Paijo dan Dul Penyet yang berada di kampung halamannya, hingga Jan Penceng yang aktivitasnya ditempat-tempat mewah dan bertemu dengan orang-orang yang katanya berkelas. Sungguh sangat ngeri hati yang ngilu ini. Ini kita yang sudah gila, atau tempat dan lingkungan kita yang gila. Mari kita cari jawabannya dan pertanyakan kepada nurani. Bismillah, Wallahua’alam.

Ali Arifin - Kolom Pincuk, Kemis Legi 26 Mulud 1949

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel