#Pincuk - Berlebaran di Pelukan Ibu

ali arifin berlebaran dipelukan ibu
Idhul Fitri kali ini Pincuk merayakan lebaran di kampung halamannya, tempat dimana dia dilahirkan. Pastinya ini menjadi keanehan tersendiri diantara teman-temannya di Gedung Putih. Maklum, selama ini dia terlalu sibuk memikirkan dunianya dan jarang berkeinginan untuk pulang ketika lebaran tiba.

Terakhir sebelum pulang kampung, dia ngobrol dengan Wak Jan.

"Jan, aku arep bali. Aku kangen karo  Ibu Bapak-ku. Aku pengen ngalap berkah. Sapa reti dadi dalanku. Ning kene wis pontang panting ya durung ana hasile, ngalor ngidul ra ana kethoke. Kayaknya aku nggak kembali lagi. "

"Lho...  Kamu kok gitu, disini kamu kan sudah ada kerjaan. Apa nggak sayang, jika ditinggal begitu saja. Nyari kerja susah lho..! Pikir dulu yang matang! "

"Wis tak pikir, aku ingin memulai hidup yang baru. Kowe ora reti kahananku!"

"Maksudmu? Kamu mau nikah Cuk? Ora betah?"

"Hmmmm...  (sambil menghela nafas) Mulai dari titik nol Jan, ingin meninggalkan rutinitas ini. Wis aku pamit, ora usah kakehan tekok. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam....  Jangan lupa berkabar."

Pincuk pun langsung berjalan dengan langkah lebar dengan menggendong tas besarnya. Dan semenjak itu tak ada kabar lagi tentang dirinya. Mungkin dia sedang dalam masa perenungan sunyinya. Mungkin dia ingin merdeka dan berdamai dengan hatinya untuk berlebaran dipelukan Ibu. Pasti ada waktu yang tepat untuk dia kembali kepermukaan. Ternyata sebelum Pincuk pulang, dia sempat sowan kepada Mufti Sepuh di daerah Giri, dan mungkin ini jawabannya. (Aa)

Kolom Pincuk,
21 Juni 2018
ali arifin, demak, sastrawan demak, budayawan demak, puisi demak, penulis demak, sinemak, sinematografi demak, sinema demak, komunitas sinema demak, maiyah demak, maiyah kalijagan, pemuda demak, tokoh pemuda demak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel